Home / Blog / Opinion & Philosophy

SOCIETY · POLITICS · TECHNOLOGY

Kenapa Kita Merasa Tahu, Padahal Cuma Disuapi Algoritma?

8 Desember 2023 · 4 min read

Algoritma tidak cuma mengatur feed. Ia pelan-pelan mengatur apa yang terasa penting, benar, mendesak, bahkan layak dibenci.

Kita sering membicarakan algoritma seolah-olah ia hanya fitur teknis. Padahal algoritma sekarang sudah menjadi infrastruktur sosial. Ia menentukan apa yang muncul di layar, apa yang terasa penting, siapa yang terlihat pintar, isu mana yang panas, dan emosi apa yang terus dipelihara.

Ini bukan lagi urusan teknologi saja. Ini politik perhatian. Siapa yang mendapat fokus publik, dengan cara apa, dan untuk kepentingan siapa. Dalam ekonomi digital, perhatian adalah pintu masuk uang, pengaruh, reputasi, bahkan legitimasi.

Yang sering muncul terasa benar

Manusia punya kecenderungan sederhana. Sesuatu yang sering terlihat terasa penting. Kalau satu isu muncul terus, kita merasa isu itu mendominasi hidup. Kalau seseorang sering tampil percaya diri, kita merasa dia lebih kompeten. Algoritma memperkuat ini karena ia membaca engagement, bukan selalu kualitas nalar.

Konten yang membuat marah, takut, bangga, atau tersinggung sering bergerak cepat. Orang komentar, share, debat. Platform membaca itu sebagai sinyal. Akhirnya ruang digital mudah menjadi ruang reaksi.

Bukan berarti semua yang viral salah. Tapi viral tidak boleh disamakan dengan benar. Ramai itu ramai. Benar perlu pekerjaan lain. Sumber, konteks, verifikasi, dan kesediaan bilang tidak tahu.

Bisnis juga bermain di medan yang sama

Brand dan bisnis juga mengejar perhatian. Bedanya, brand yang matang harus tahu batas. Clickbait bisa membawa traffic, tapi kalau isinya mengecewakan, trust turun. Konten provokatif bisa ramai, tapi kalau tidak memberi nilai, brand terlihat murahan.

Marketing yang sehat tidak anti perhatian. Tanpa perhatian, pesan tidak sampai. Tapi perhatian harus diarahkan ke pemahaman, bukan hanya reaksi. Konten bisnis seharusnya membuat orang lebih paham masalah, lebih mampu memilih solusi, dan lebih percaya pada proses.

Ada beda antara tajam dan sekadar panas. Tajam punya sudut pandang, contoh, dan argumen. Panas hanya memancing keributan. Brand yang cerdas memilih tajam.

Algoritma membaca pola, manusia butuh makna

Algoritma bekerja dengan pola. Klik, durasi, komentar, share, minat, prediksi. Tapi manusia tidak hidup hanya dari pola. Manusia butuh makna. Kita ingin tahu kenapa sesuatu penting, bagaimana hubungannya dengan hidup kita, dan apa yang seharusnya dilakukan.

Masalah muncul ketika kreator, bisnis, atau politisi terlalu tunduk pada pola algoritma sampai melupakan makna. Semua konten dibuat pendek, panas, mudah diperdebatkan. Semua isu jadi hitam putih. Semua pesan dipadatkan jadi slogan. Di awal terlihat efektif. Lama-lama publik lelah.

Teknologi yang kuat membutuhkan etika yang kuat. Bukan etika sebagai pajangan, tapi sebagai cara memilih ketika angka engagement menggoda. Tidak semua yang bisa menaikkan reach layak dilakukan.

Brand perlu kompas konten

Untuk bisnis dan personal brand, kompas konten penting. Nilai apa yang tidak boleh dikorbankan? Audiens seperti apa yang ingin dibangun? Topik apa yang pantas dibahas? Gaya apa yang tidak sesuai? Batas antara edukasi dan manipulasi ada di mana?

Tanpa kompas, brand mudah terbawa arus. Hari ini ikut drama, besok ikut gimmick, lusa ikut isu yang sebenarnya tidak nyambung. Mungkin angka naik, tapi identitas kabur. Dengan kompas, brand bisa tetap relevan tanpa kehilangan diri.

Kompas juga membuat konten lebih tahan lama. Artikel yang menjelaskan dengan baik bisa tetap dicari bertahun-tahun. Framework yang berguna bisa terus dibagikan. Studi kasus yang jujur bisa menjadi bukti.

Kita perlu lebih sadar

Kita tidak bisa sepenuhnya keluar dari algoritma. Kita bekerja, belajar, menjual, mencari berita, dan membangun relasi lewat platform. Tapi kita bisa lebih sadar. Sadar bahwa layar bukan cermin utuh kenyataan. Sadar bahwa perhatian punya nilai. Sadar bahwa setiap share ikut membentuk ruang publik.

Dalam konteks bisnis, kesadaran ini membuat strategi lebih dewasa. Kita tetap memakai platform, tapi tidak diperbudak metrik dangkal. Kita tetap membuat konten, tapi tidak mengorbankan trust. Kita tetap menjual, tapi tidak memanipulasi ketakutan.

Politik perhatian akan makin penting karena AI membuat produksi konten makin murah. Ketika konten melimpah, perhatian makin mahal. Dan ketika perhatian mahal, integritas menjadi pembeda. Di masa depan, brand yang kuat bukan hanya yang sering muncul, tapi yang pantas dipercaya ketika muncul.

Catatan lapangan

Kita sering merasa sedang memilih sendiri apa yang kita lihat. Padahal sering kali layar sudah menyodorkan menu lebih dulu. Kita tinggal bereaksi. Marah sedikit, komentar sedikit, nonton sedikit, lalu sistem belajar. Oh, orang ini suka dipancing ke sini. Lama-lama kita merasa dunia memang seperti yang muncul di layar.

Bisnis perlu sadar soal ini. Brand boleh memakai algoritma, tapi jangan sampai seluruh moral kontennya diserahkan kepada algoritma. Kalau yang paling mudah ramai adalah yang paling membuat orang panas, apakah semua brand harus ikut panas? Menurut saya tidak.

Ada tanggung jawab kecil dalam setiap konten. Apakah kita membuat orang lebih paham, atau hanya membuat mereka lebih reaktif? Pertanyaan ini tidak selalu populer, tapi penting kalau brand ingin dipercaya lama.

Untuk brand, ini berarti strategi konten harus punya rem. Tidak semua isu perlu dikomentari. Tidak semua tren perlu dinaiki. Kadang keputusan paling cerdas adalah diam, membaca, lalu berbicara ketika punya sesuatu yang benar-benar membantu. Di dunia yang ramai, timing juga bagian dari wibawa.

Kita tidak harus anti platform. Itu tidak realistis. Tapi kita perlu sadar bahwa platform punya kepentingan. Kesadaran kecil ini membuat kita tidak mudah merasa semua yang ramai pasti penting.

Poin praktis

  • Bikin "moral konten" internal. Apa yang tidak akan kita posting walau ramai.

  • Ukur bukan hanya reach, tapi kualitas interaksi (share, DM, konversi).

  • Uji satu konten yang lambat tumbuh tapi tahan lama tiap bulan.

  • Hindari framing bermusuhan hanya demi engagement.

  • Jaga jarak dari trend yang bertentangan dengan positioning brand.

Baca juga

Sambungkan ke brand yang mengejar semua orang dan kehilangan bentuk dan brand yang tidak punya waktu untuk membosankan.